Kamis, 13 Mei 2021

Peci Bapak

Sejak dulu, Bapak selalu memakai peci ke mana-mana. Bukan karena sok alim atau pingin dipanggil ustadz, tapi untuk menutupi rambutnya yang mulai jarang.

Bapak punya banyak koleksi peci. Ada yang warna hitam dari bahan beludru, peci sejuta umat yang umumnya dipakai saat ijab qobul. Ada yang warna putih dari kain rajut. Ada juga yang warna-warni.

Bapak paling suka peci warna putih. Hampir setiap hari dipakai ke mushola dekat rumah. Pernah Bapak lupa menaruh peci itu setelah dicuci, serumah heboh diminta nyari.

Dua tahun lalu, saat Bapak berkunjung ke rumah, aku perhatikan Bapak punya peci favorit baru. Peci warna hitam dengan motif garis silang putih. Peci baru katanya, hadiah dari Ibu saat Idul Fitri. 

"Pak, kenapa gak pakai yang putih lagi?" tanyaku kala itu.

"Pakainya yang barulah..." kata beliau berseloroh. Kalau dulu aku percaya aja, tapi sekarang aku tahu itu bentuk romantisme Bapak ke Ibu. Meski tak pandai berkata cinta, Bapak punya cara sendiri untuk mengungkapkannya. Salah satunya dengan selalu memakai hadiah-hadiah dari Ibu.

Ah, Bapak, pecimu kini hanya menghias lemari karena tak pernah engkau pakai lagi. Terima kasih sudah mengajariku banyak hal. Selamat lebaran Pak.

*bukankisahnyata

Kamis, 07 November 2019

Aku Hanya Punya Satu Kantong

Ama: Besok main voli ya teman-teman
Beta: Ikuut...
Caca: Di mana?
A: Di tempat yang kemarin, jam 7

Sekilas aku membaca info di grup kantor. 
"Hmmm pingin ikut," batinku.
"Ungu ikut voli kan besok?" tanya mbak Ama.
"InsyaAllah mbak, tapi jam 7.30 baru bisa," aku menjawab.
"Ohiya, harus antar anak dulu ya." Mbak Ama yang baru kukenal setahun belakangan ini paham kalau aku setiap pagi harus mengantar anak ke sekolah.

Keesokan harinya, dengan semangat aku minta izin ke suami untuk berangkat lebih pagi karena mau berolahraga. Alhamdulillah suami mengizinkan. Maka, aku mengkondisikan anak-anak untuk siap berangkat lebih pagi. Aku pun berangkat dengan kaos dan rok celana, sementara baju batik kumasukkan ke dalam tas.

Setelah mengantar anakku, aku menuju lapangan voli di seberang sekolah. Jarak sekolah anakku dan lapangan hanya berkisar 200m, sepuluh menit berjalan cukup menguras keringat. Tapi ternyata di lapangan tidak nampak sosok yang kukenal. Yang kudapati sekelompok Bapak-Bapak yang sedang asyik memukul bola. Apa di lapangan yang sebelah ya?

"Mbak Ama, main volinya sudah selesai?" ketikku dalam pesan singkat.
"Ini sudah mau selesai, di sini panas banget," jawabnya.
"Oh, oke mbak, kalau begitu aku jogging aja," ketikku kemudian.

Sambil berbalik arah, tiba-tiba aku baper. Setitk air mata jatuh. Ya Allah sebenarnya aku juga mau olahraga pagi, makan bareng, atau sekedar kumpul sama teman-teman. Tapi bagiku saat ini keluarga adalah yang utama. Aku sudah menentukan pilihan. Lalu, aku teringat dengan masa-masa kebersamaan saat mengantar atau menjemput anakku. Alhamdulillah, nikmat yang tidak tergantikan. Aku pun menyadari aku tak bisa memasukkan 2 bola dalam satu kantong. Tapi aku bisa memasukkan 1 bola dalam kantong dan membawa bola yang lain di tanganku. Mungkin tidak tampak ideal, tapi saat ini itu yang kubisa.

8 November