Sejak dulu, Bapak selalu memakai peci ke mana-mana. Bukan karena sok alim atau pingin dipanggil ustadz, tapi untuk menutupi rambutnya yang mulai jarang.
Bapak punya banyak koleksi peci. Ada yang warna hitam dari bahan beludru, peci sejuta umat yang umumnya dipakai saat ijab qobul. Ada yang warna putih dari kain rajut. Ada juga yang warna-warni.
Bapak paling suka peci warna putih. Hampir setiap hari dipakai ke mushola dekat rumah. Pernah Bapak lupa menaruh peci itu setelah dicuci, serumah heboh diminta nyari.
Dua tahun lalu, saat Bapak berkunjung ke rumah, aku perhatikan Bapak punya peci favorit baru. Peci warna hitam dengan motif garis silang putih. Peci baru katanya, hadiah dari Ibu saat Idul Fitri.
"Pak, kenapa gak pakai yang putih lagi?" tanyaku kala itu.
"Pakainya yang barulah..." kata beliau berseloroh. Kalau dulu aku percaya aja, tapi sekarang aku tahu itu bentuk romantisme Bapak ke Ibu. Meski tak pandai berkata cinta, Bapak punya cara sendiri untuk mengungkapkannya. Salah satunya dengan selalu memakai hadiah-hadiah dari Ibu.
Ah, Bapak, pecimu kini hanya menghias lemari karena tak pernah engkau pakai lagi. Terima kasih sudah mengajariku banyak hal. Selamat lebaran Pak.
*bukankisahnyata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar