Kamis, 07 November 2019

Aku Hanya Punya Satu Kantong

Ama: Besok main voli ya teman-teman
Beta: Ikuut...
Caca: Di mana?
A: Di tempat yang kemarin, jam 7

Sekilas aku membaca info di grup kantor. 
"Hmmm pingin ikut," batinku.
"Ungu ikut voli kan besok?" tanya mbak Ama.
"InsyaAllah mbak, tapi jam 7.30 baru bisa," aku menjawab.
"Ohiya, harus antar anak dulu ya." Mbak Ama yang baru kukenal setahun belakangan ini paham kalau aku setiap pagi harus mengantar anak ke sekolah.

Keesokan harinya, dengan semangat aku minta izin ke suami untuk berangkat lebih pagi karena mau berolahraga. Alhamdulillah suami mengizinkan. Maka, aku mengkondisikan anak-anak untuk siap berangkat lebih pagi. Aku pun berangkat dengan kaos dan rok celana, sementara baju batik kumasukkan ke dalam tas.

Setelah mengantar anakku, aku menuju lapangan voli di seberang sekolah. Jarak sekolah anakku dan lapangan hanya berkisar 200m, sepuluh menit berjalan cukup menguras keringat. Tapi ternyata di lapangan tidak nampak sosok yang kukenal. Yang kudapati sekelompok Bapak-Bapak yang sedang asyik memukul bola. Apa di lapangan yang sebelah ya?

"Mbak Ama, main volinya sudah selesai?" ketikku dalam pesan singkat.
"Ini sudah mau selesai, di sini panas banget," jawabnya.
"Oh, oke mbak, kalau begitu aku jogging aja," ketikku kemudian.

Sambil berbalik arah, tiba-tiba aku baper. Setitk air mata jatuh. Ya Allah sebenarnya aku juga mau olahraga pagi, makan bareng, atau sekedar kumpul sama teman-teman. Tapi bagiku saat ini keluarga adalah yang utama. Aku sudah menentukan pilihan. Lalu, aku teringat dengan masa-masa kebersamaan saat mengantar atau menjemput anakku. Alhamdulillah, nikmat yang tidak tergantikan. Aku pun menyadari aku tak bisa memasukkan 2 bola dalam satu kantong. Tapi aku bisa memasukkan 1 bola dalam kantong dan membawa bola yang lain di tanganku. Mungkin tidak tampak ideal, tapi saat ini itu yang kubisa.

8 November 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar